Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Sebelumnya saya mengucapkan turut berbela sungkawa atas bencana tsunami yang menimpa Jepang

Siang tadi sebuah tsunami besar menghantam Jepang siang hari tadi. Sebuah fenomena alam luar biasa yang merupakan sebuah bencana bagi daerah di sekelilingnya. Seperti halnya Aceh pada tahun 2004 lalu. Pada saat itu Aceh terkena tsunami sebagai akibat gempa yang terjadi di laut dengan kekuatan 9,3 skala Richter. Tsunami ini menyebabkan kurang lebih 126.00 orang meninggal di Indonesia. Bencana ini merupakan salah satu bencana terbesar di dunia.

Sedangkan saat ini, Jepanglah yang terkena tsunami dengan kekuatan 8,9 skala Richter. Sejauh ini korban yang meninggal telah mencapai 59 orang.

 

 

59 Orang???

Ya, jumlah yang sangat kec il bukan bila dibandingkan dengan korban  Tsunami di Aceh beberapa tahun silam meskipun kemungkinan bertambahnya jumlah korban masih mungkin terus meningkat. Namun dapat dipastikan tak sebanyak tsunami Aceh dahulu.

Mengapa??

Biarlah saya mengutip hasil wawancara Metro TV dengan Pak Jusuf Kalla, yang ketika gempa terjadi ia sedang makan siang bersama Dubes Indonesia di Jepang, Muhammad Lutfie, beberapa jam pasca gempa.

Pak JK menuturkan bagaimana solidnya evakuasi para masyarakat Jepang yang terdapat di perkantoran maupun bangunan lain. Mereka dievakuasi menuju taman dan jalan. Menurut pernyataan Pak JK, setiap perkantoran tersebut memiliki tempat evakuasi tersendiri.

Masing-masing gedung sudah dikordinir tempat evakuasinya masing-masing.

Walaupun dalam keadaan genting seperti itu. Masyarakat Jepang tetap percaya dan menerima segala keputusan pemerintah yang ditetapkan kepada mereka, seperti penempatan lokasi evakuasi. Meskipun pikiran mereka sendiri mengatakan tempat itu juga kurang aman, akan tetapi mereka tetap bertahan di lokasi tersebut. Ini membuat mereka dapat dikordinir dengan baik dan meminimalisir keadaan semakin memburuk.

Selain itu tak berselang lama setelah gempa pemerintah Jepang dengan sigap mematikan berbagai aliran listrik serta menonaktifkan kereta Shinkansen atau kereta super cepat mereka guna mencegah keadaan yang semakin memburuk.

Sementara itu di Tokyo, tak dijumpai banyak gedung yang ambruk bahkan dapat dikatakan hampir tak ada. Seperti yang kita ketahui bahwa gedung-gedung di Jepang memang dirancang agar dapat tbertahan menghadapi goncangan gempa.

Itulah alasan-alasan yang mendasari sedikitnya jumlah korban akibat bencana tersebut yaitu :

1. Jepang telah siap dalam menghadapi kemungkinan buruk yang akan menimpa mereka dengan berbagai kemajuan teknologi.

2. Adanya penanganan yang sigap dan tepat dari pemerintahnya.

3. Masyarakat Jepang sangat percaya terhadap pemerintahnya

Coba kita bandingkan dengan Indonesia.

1. Indonesia masih sangat kurang dalam persiapan menghadapi berbagai bencana.

Ini dapat kita lihat dari minimnya teknologi yang membantu dalam pengidentivikasian, pensosialisasian maupun pengevakuasian. Teknologi Indonesia sendiri masih sangat kurang dalam menghadapi berbagai bencana lokal seperti gempa.

2. Kurang sigapnya pemerintah

Ini dapat kita lihat pada begitu lambatnya respon pemerintah dalam menghadapi bencana. Baik ketika pasca maupun pra, pensosialisasian maupun pengevakuasian.

3. Masyarakat yang kurang percaya terhadap pemerintah

Ini dapat kita lihat pada kehidupan sehari – hari. Banyak masyarakat yang jutru “ngeyel” ketika diperingatkan tentang adanya bencana dan justru lebih mementingkan harta. Banyak pula anggota masyarakat yang lebih mementingkan pikirannya daripada himbauan pemerintah.

Itulah hasil perbandingan dari kedua negara. Tsunami ini telah kembali mengungkap semuanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: