Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Malam kini semakin larut. Sang rembulan yang terang benderang pun kini mulai tertutup awan. Angin malam pun perlahan menghilang. Akan tetapi, tubuh ini masih merasa diselimuti dinginnya malam.

“Seandainya ia masih di sini, mungkin malam ini terasa hangat” ucapku lirih. Entah mengapa memori masa lalu yang berusaha kulupakan, kini kembali merasuk ke dalam pikiranku. Mengisi pikiranku dan mengingatkanku pada semua masa kelam berbungkus kenangan indah bersamanya. Kenangan yang terbagi atas pecahan dari sebuah rangkaian indah layaknya rangkaian metamorfosa kupu-kupu

“Ibunya ada?” tanya Bu Hani, teman ibuku yang sejak tadi telah menunggu di depan rumahku.

“Oh, ada. Tunggu sebentar ya bu!” jawabku seraya berbagas memanggil ibuku yang sedang menjemur pakaian. Setelahnya aku pun hendak melanjutkan menonton televisi.

‘Yan, tutup pagarnya tuh.” suruh ibuku ketika diriku baru saja hendak duduk.

“Ia” jawabku sembari bergegas menuju pagar. Aku tak mau ketinggalan menonton pertandingan di televisi terlalu lama. Ketika hendak menutup pagar aku tak sengaja melihat seorang perempuan mengenakan baju dan jilbab biru duduk di kursi halamanku. Kami pun saling pandang dan aku pun teringat percakapan dengan teman-teman sekolahku.

“Eh tau nggak lu? Temen SMP gua ada tuh yang cakep, pinter solehah lagi. Wah kayanya keutamaan perempuan tuh ada di dia semua” ujar Randy yang tiba-tiba nimbrung ketika aku dan Ahmad sedang membicarakan materi yang disampaikan Ustadz Lutfhi tentang keutamaan laki-laki dan perempuan.

“Alah maksud lu Shifa kan?” timpal Ahmad

“hhe.. kok tau” balas Randy

“Yah lu sama gua tahuan gua lah tentang dia. Gua dari TK sama dia, lagian lu kan emang fansnya hha..” ujar Ahmad sambil tertawa.

“Ye lu sendiri kan juga fans dia.. cuma lu sok cool aja. Jadi gak mau ngaku mulu.” timpal Randy lagi

” Ih siapa juga yang suka perempuan bawel kaya dia!” balas Ahmad tak terima

“Walah pas abis latihan buat lomba Fisika pas SMA, lu bilang ‘Shifa mantep ya, udah cantik, solihah, pinter lagi.’ ” gugat Randy

“Dih itu mah keceplosan” ujar Ahmad. Entah mengapa mukanya terlihat merah

“Keceplosan apa keceplosan” goda Randy

“Apa sih” ujar Ahmad sewot. Meski begitu terlihat mukanya semakin merah “Eh kasihan nih Ryan nggak diajak ngomong” timpalnya berusaha mengalihkan pembicaraan

“Hha.. udah lanjutin aja, kocak tahu ngeliatin kalian berdua berantem padahal dari SD sampe SMP bareng mulu” jawabku

“Itu mah wajar, kalo gua damai sama Ahmad brarti udah mau kiamat.” balas Randy yang diikuti tawa kami bertiga. “Ah kayanya si Ryan juga terpesona nih sama Shifa” ujarnya sambil tertawa cekikikan

“Apaan sih liat aja nggak pernah” balasku melindungi diri

“Dia kan ibunya temen deket ibu lu, mereka kan sering ikut acara bareng” balas Randy lagi

“Ye temen ibu gua banyak. Ibu lu berdua juga temen ibu gua.”

“Ituloh Bu Hani” balas Ahmad “Yang sering ibu lu tumpangin kalo ada acara yang harus make mobil”

Percakapan itu telah berlalu sekitar setengah tahun yang lalu ketika kami baru masuk ke SMAIT Al-Azhar. Akan tetapi, baru kini aku bisa melihatnya.

“Yan Ifah nangis tuh. Jagain bentar” panggil ibuku dari dalam rumah. Aku pun sadar dan segera menundukkan muka seraya berjalan pergi. Sedangkan Shifa pun tampaknya baru sadar dan segera mengalihkan pandangannya.

Entah mengapa, sebuah perkenalan sederhana tanpa kata-kata itu menjadi sebuah pecahan awal dari sebuah rangkaian indah metamorfosa hidupku.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: