Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

devote yourself to a cause: John Wood dan anak-anak Nepal.Terkadang, sebuah perjalanan dapat mengubah hidup seseorang. Pada 1998, eksekutif Microsoft Corp. John Wood ingin rehat sejenak dari rutinitas kesehariannya dengan trekking selama 18 hari di Nepal. “Saya pikir Himalaya sudah cukup tinggi untuk tidak mendengar teriakan Steve Ballmer (CEO Microsoft),” candanya.

Dalam perjalanannya, Wood berhenti di sebuah sekolah kecil. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Bahwa perpustakan sekolah tersebut berisi buku-buku bekas,–dengan kondisi mengenaskan—yang ditinggalkan oleh para traveler yang melintas.

Ketika ia akan pergi, si kepala sekolah berkata kepadanya, “perhaps sir, you will return with books?”.

Selama sisa trekkingnya, yang dipikirkan Wood hanyalah sekolah kecil yang terletak di desa Bahundanda itu dan buku. ”Saya merasakan sebuah titik balik dalam kehidupan saya. Seperti berada pada titik nol lagi,” katanya.

 

Pada 1999, Wood berhenti sebagai jabatan prestisius, Microsoft bussines development untuk China daratan, lantas mendirikan sebuah organisasi non profit Room to Read (roomtoread.org). Saat ini, LSM internasional yang bergerak untuk mengumpulkan buku-buku bekas itu telah membangun lebih dari 5600 perpustakan sekolah serta mengumpulkan lebih dari 5 juta buku di 7 negara berkembang. Termasuk India, Laos, Sri Lanka, Kamnoja, hingga Vietnam.

Ia sendiri juga telah menulis buku “Leaving Microsoft to Change the World: An Entreprenerur’s Odyssey to Educate the World’s Children” yang diterbitkan pada 2006.

Peduli pendidikan

Meninggalkan karir yang mapan bukanlah pilihan mudah bagi Wood. Tapi, apa sebenarnya yang membuatnya begitu yakin? “Saya merasa begitu banyak anak yang belum mendapatkan edukasi. Dan, rasanya sangat sedikit orang yang peduli soal ini. Karena itu, saya selalu berpikir bahwa apa yang saya lakukan sekarang ini lebih baik daripada mengkhawatirkan seberapa banyak Windows yang terjual di China setiap hari,” katanya.

Tapi, bagaimana ia menjalankan sebuah usaha non profit, sementara dulu profesinya sangat berorentasi dengan margin? Untuk menjawab pertanyaan itu, Wood justru mengingat apa yang diungkapkan Steve Ballmer kepadanya, “think big, or go home,”.

Karena itu, sebelum memutuskan hengkang, Wood sudah memiliki planning yang sangat matang dalam mengorganisir LSM-nya. Termasuk menjalin hubungan dengan berbagai pihak di seluruh dunia yang memiliki visi dan passion yang sama. “I don’t think age 30 or 40 or 45 is too late to do something completely different,” katanya.

*Suatu hari nanti, saya harap saya bisa mengikuti langkah John Wood.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: