Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Dunia Itu Sempit #1

Siang itu aku akan berangkat menuju Monumen Nasional untuk mengikuti aksi solidaritas Timur Tengah. Aksi solidaritas ini bertujuan untuk menunjukkan kepedulian PKS terhadap besarnya tekanan terhadap bangsa Timur Tengah terkait dengan banyaknya tuntutan reformasi pada negara-negara Timur Tengah, seperti di Libya, Mesir dan Tunisia

Aku pun berangkat sekitar pukul 1 siang. Sebenarnya aku sadar bahwa kemungkinan aku akan terlambat karena bis dari DPC berangkat pukul 1 tepat. Akan tetapi, tak ada salahnya mencoba. Aku pun mengendarai motor secepat yang ku bisa. Situasi semakin buruk ketika motor yang kukendarai kehabisan bensin. Untunglah di seberangnya terdapat SPBU. Setelah mengisi bensin, aku pun melanjutkan perjalananku menuju DPC yang tak jauh lagi.

Ternyata dugaanku benar, sesampainya aku di sana. DPC telah tutup dan terkunci. Awalnya aku begitu kesal. Akan tetapi, aku pun tak mau kalah dengan keadaan yang ada. Kutelepon ayahku dan minta pendapatnya, mengingat STNKku yang hilang, ayahku pun menyuruhku menitipkan motor di swalayan terdekat lalu menuju Blok M dengan metro mini. Akan tetapi di tengah perjalanan, aku mendapat ide lain. Ide itu adalah menaiki kereta. Selain lebih simpel dan lebih cepat, kereta juga murah.

Akhirnya berbekal semangat dan nekat yang ada, aku pun menuju stasiun. Setelah menitipkan motor, aku pun memesan tiket terjauh, karena memang aku tak tahu jalan dan tak berpengalaman. Akhirnya ku dapati tiket menuju Tanah Abang.

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kereta tiba. Aku pun mencari blok kereta yang nyaman. Ketika akhirnya kumasuki blok yang kurasa paling nyaman, aku pun terperanjat. Ada seseorang yang mengenakan baju DPW Bmanten sama sepertiku. Aku pun berusaha menyapanya.

“Assalamualaikum A`. Mau ke Monas juga?” tanyaku seraya menjulurkan tangan.

“Waalaikumsalam, iya. Antum juga?” balasnya sambil menjabat tanganku

“Iya. Kenalin ane Miqdad. Kakak?”

“Ane Tian. Antum dari Pondok Aren?”

“Iya. Kakak dari mana?”

“Oh ane dari Setu. Di Batan tepatnya.”

“Wah ane sekolah nggak jauh dari Batan tuh. Di SMAN 2”

“Oh iya deket ya”

Begitulah percakapan antara kami, begitu kental meski baru saja mengenal.  Allah seakan mempertemukanku dengannya dengan keterlambatanku tadi. Subhanallah!

Namun hal yang paling mengejutkan dan luar biasa adalah beliau pernah bertemu murabbi/mentorku.

Kenapa?

Karena ternyata ia satu pondok pesantren dengan murabbiku. Padahal murabbiku juga satu pondok pesantrenku. Masya Alllah! Dunia ini begitu sempit!

Satu hal lagi. Ketika turun dari Tanah Abang dan menaiki Kopaja sampai Tamrin. Aku berjumpa dengan ikhwah-ikhwah dari PKS yang kemudian sedangkan mengumpulkan dana. Hebatnya mereka juga alumni pondok pesantrenku. Husnul Khotimah!!

Allahu Akbar! Dunia memang begitu sempit bagi hambanya yang saling menjaga ukhuwah dan membangun silaturahmi!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: