Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Sore itu, langit begitu terang. Tak tampak awan mendung sedikit pun di pelupuk langit. Padahal menurut para burung yang sempat singgah, saat ini sedang musim penghujan. Apalagi belakangan ini hujan seringkali turun ketika sore hari. Biasanya para siswa yang akan pulang pasti menghampiriku. Akan tetapi bukan untuk shalat atau membaca Al-Qur`an, mereka hanya berteduh menunggu jemputan dan angkutan umum. Parahnya lagi mereka justru seringkali tidak melepaskan sepatu mereka, dan justru mengotori tubuhku dengan sepatu mereka
Lokasiku memang strategis. Aku merupakan, bangunan sekolah yang terdekat dengan jalan raya. Akan tetapi, lokasi yang strategis tak membuat para siswa bahkan guru-guru tertarik mengunjungiku. Ketika waktu Ashar, para siswa lebih suka mengunjungi warung internet yang berada di seberang jalan raya, sedangkan para guru lebih suka menghabiskan waktu di kantor guru. Tinggallah aku sendiri. Sang musholah kecil.

Untunglah Allah murah hati, terkadang datanglah beberapa musafir yang menumpang shalat di tubuhku. Burung-burung pun terkadang menenangkanku dan menasihatiku agar bersabar. Akan tetapi, tak jarang Pak Warung Internet dan Pak Ruang Guru menghinaku

“ Yaah,, kamu bangunan baru tapi nggak laku, cuman jadi keset doang.” hina mereka sambil tertawa. Aku pun hanya bisa terdiam seribu bahasa

Namun sore itu berbeda, langit terang mungkin menjadi pertanda bahwa telah datang manusia-manusia pilihan. Aku baru pertama kali melihat mereka, tetapi aku tahu mereka adalah murid SMA ini, SMA 21 Karang Jauh. Itu dikarenakan mereka mengenakan baju seragam yang sudah familiar di mataku.

Mereka berjumlah lima orang. Mereka datang ketika bel sekolah telah berbunyi. Salah seorang dari mereka mengumandangkan adzan. Lalu mereka shalat berjamaah. Ketika mereka berdoa, aku pun hanya bisa mengamini dan ikut mendoakan mereka. Meskipun begitu sesungguhnya tak hanya aku yang melakukan itu, langit, burung, bumi bahkan para malaikat memohonkan ampunan atas dosa para manusia-manusia pilihan itu kepada-Nya.

Yang membuatku penasaran. Setelah berdoa, mereka pun berkumpul membentuk lingkaran

“ OK Temen-temen, hari ini mungkin kita nggak liqo` dulu. Insya Allah besok kita mulai liqo`nya.” ujar siswa yang tadi menjadi imam shalat.
Seketika benakku pun bertanya-tanya Apa sih liqo? Itu ibadah juga nggak ya?

“ Sekarang agenda kita mungkin membereskan mushollah ini dulu. Keliatan kotor banget nih” sambung sang imam shalat lagi.

“Ayo” jawab yang lainnya semangat. Seketika itu aku terharu, sudah sekian lama orang tidak memerhatikanku, bahkan pegawai kebersihan sekolah pun bisa dihitung jari dalam membersihkanku setiap bulannya.

Aku pun berdoa dalam hati. Ya Allah ampuni dosa-dosa mereka.. Kabulkan keinginan mereka. Jadikan mereka manusia-manusia luar biasa yang Engkau pilih untuk menjadi hamba-Mu yang sukses dunia dan akhirat..

Keesokan harinya, ketika bel pulang sekolah berbunyi, mereka kembali. Seperti halnya kemarin, mereka pun shalat berjamaah kemudian berdoa. Seperti kemarin pula, aku pun mendoakan mereka kembali. Begitu juga mahluhk-Nya yang lain.
Setelah mereka berdoa, mereka pun membuat lingkaran seperti kemarin.
“ Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatu.” ucap salah seorang dari mereka.

“ Waalaikumsalam warahmatullahi wabaralkatu.” Jawab yang lainnya.

Orang yang mengucapkan salam pun melanjutkan dengan beberapa muqaddimah yang biasa diucapkan khatib saat shalat Jum`at. Setelahnya mereka pun membaca Al-Qur`an. Aku pun kembali terhenyak. Ya Allah sungguh indahnya untuk kembali mendengar kalam-Mu dalam Al-Qur`anul Karim. Aku memang sudah cukup lama tidak mendengar Al-Qur`an dilantunkan. Sungguh ironis mengingat aku memiliki banyak Al-Qur`an yang terta rapi di rak-rak.
Setelahnya mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka dengan mendengarkan kultum yang disampaikan salah satu dari mereka. Hingga akhirnya mereka pun sampai di acara taujih.

“ Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,” ujar siswa yang kemarin menjadi imam.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu.” Jawab yang lainnya.

Sang imam itu pun menyampaikan beberapa patah kata yang isinya mengucapkan rasa bahagianya bisa kembali mengadakan acara liqo tersebut. Akan tetapi ada sepatah kalimat yang begitu menyentuh di hatiku.

“… Kawan-kawan sungguh bahagia kita bisa berkumpul di suatu tempat yang membutuhkan kita sebagai pendakwah. Mungkin di sini banyak tantangan yang akan muncul. Akan tetapi tantangan buat menuju syurga memang banyak. Semakin banyak tantangan yang menghadang. Insya Allah, kita semakin dekat dengan syurga Allah….”

Sungguh indah untaian kalimat dari sang imam tersebut.. Aku pun pasti akan menangis seandainya aku memiliki mata.

Tak lama kemudian mereka pun menutup kegiatan tersebut dengan doa kafaratum majelis lalu kemudian pergi. Mereka pergi ibarat merpati putih yang menebarkan bulu-bulu indahnya kemana pun ia pergi.

Hari-berganti hari, setiap minggu mereka mengadakan acara yang mereka sebut liqo. Kini aku pun mengenal mereka. Mereka bernama Yusuf, Karim, Nizar, Aldi, dan Haris. Yusuf merupakan ketua liqo sekaligus murabbi. Murabbi sendiri artinya pembimbing. Yusuf menjadi pembimbing karena mereka kesulitan mencari ustadz untuk menjadi pembimbing mereka. Yusuf sendiri merupakan murid pindahan dari pesantren yang kemudian mengajak teman-temannya yang lain untuk ikut liqo.

Aku pun kini tak kesepian. Tubuhku yang biasanya kotor pun kini selalu bersih karena setiap hari mereka membersihkan tubuhku.

Ya Rabb sungguh hebat hamba-hamba-Mu itu

Setahun kemudian, sekolah mengadakan perombakan posisi bangunan. Aku pun jadi sasaran pertama dan utama yang akan menjadi korban perombakan. Aku dianggap tidak berguna oleh para guru dan murid.

Hingga suatu hari ketika Yusuf dan teman-teman sedang liqo` masuklah beberapa pegawai membongkar berbagai kaligrafi yang tertempel di tubuhku. Tak hanya itu, mereka juga menggotong keluar rak Al-Qur`an. Yusuf dan teman-temannya pun menghentikan liqo mereka dan berjalan keluar. Mereka pun mendapati kepala sekolah melihat pembongkaran itu. Ysuf pun menghampiri Bapak Kepala Sekolah

“Assalamualaikum, pak” sapa Yusuf.

“Waalaikumsalam. Eh Yusuf. Gimana lomba robotikanya kemarin?” jawab kepala sekolah

“Allhamdulillah dapet juara dua pak. Oiya, maaf pak. Sebenarnya ada apa ya. Kok barang-barang di masjid.”

“Oh ini mau dipake` tempat lain, Suf”

“Oh.. terus musholahnya kemana pak.”

Bapak kepala sekolah pun terdiam sejenak.”Nggak tahu suf.”

“Loh? Kok gitu pak?” ucap Yusuf kaget.

“Yah ada musholah juga nggak kepake “ jawab kepala sekolah enteng

“Maaf pak tapi kan bapak yang nggak make`. Kebetulan saya sih memakainya” jawab Yusuf dengan sedikit sinis.

“Loh kamu kok malah nyidir saya.” Ucap Pak Kepala sekolah marah.

“Ya bapak nggak bisa menghargai Tuhan saya.” Jawab Yusuf tegas

“ Apa hubungannya sama Tuhan?” balas Pak Kepala Sekolah

“ Pak! Musholah itu rumah Allah, rumah Tuhan saya, Tuhan bapak juga kan!” jawab Yusuf tajam dan kencang. Sontak siswa-siswa lain pun ramai-ramai melihatnya.

“ Jadi kamu ngelawan saya!” tantang kepala sekolah

“ Saya nggak takut sama bapak! Saya takut cuman sama Allah!” ucap Yusuf lantang.

Seketika itu Bapak Kepala Sekolah pun terhenyak, semua siswa yang tadi berisik pun terdiam.

“ Kalian tuh yang harusnya sadar! Kemana kalian selama ini! Lupa sama Tuhan! Ngerasa lebih kuat dari Tuhan!” ucap Yusuf lantang “Terutama yang muslim. Musholah Cuma buat diinjek-injek!”

Semua pun terdiam lama. Begitu pun aku. Aku hanya dapat berdzikir dan betakbir dalam hati. Bersyukur pada Allah karena telah mengirim pemuda berjiwa besar seperti Yusuf.

“Huft.. Iya Suf. Bapak ngaku bapak salah. Bapak ngaku bapak khilaf. Selama ini bapak terlalu sombong seakan bapak bisa seperti ini karena usaha bapak sendiri tanpa keridhoan dari Allah.” Ujak Bapak Kepala Sekolah sambil terisak. “ Maafin bapak ya” lanjutnya seraya menjabat tangan Yusuf erat.

“ Minta maaf sama Allah pak! Saya juga nggak bisa maafin Bapak” jawab Yusuf sambil tersenyum mengiyakan

“ Ya Allah maafin saya.. Saya telah khilaf. . Terima kasih karena telah mengirimkanku anak seperti Yusuf.” Ucap kepala sekolah sambil mengadahkan tangan ke langit.

Siswa-siswa lain pun mengerumuni Yusuf. Sejak saat itulah aku tak pernah kesepian siswa yang shalat. Bahkan tak jarang ada acara Mabit atau malam bina iman dan takwa. Hingga akhirnya setahun kemudian. Aku pun di perluas menjadi sebuah masjid. Masjid yang selalu dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah sekitar. Tak jarang ustadz-ustadz dari sekitar sekolah mengadakan pengajian khusus di tubuhku

Ya Allah.. Jadikanlah mereka sebagi penghuni syurga tertinggi-MU. Ucapku dalam hati yang ingin menangis

Epilog

Di iklan sebuah surat kabar diberitakan.
Ustadz Yusuf Al Qardhawi akan mengunjungin Indonesia tepatnya hari Ahad 23 Mei 2011. Lokasinya bertempat di masjid akbar SMAN 21 Karang Jauh. Biaya masuk gratis. Akan hadir pula Yusuf Sandawi, pakar ilmu robotika University of Tokyo yang merupakan pengurus masjid akbar SMAN 21 Karang Jauh

Iklan

Comments on: "Cerpen : Sang Mushalah Kecil" (1)

  1. kasdianto said:

    cerpen sangat menyentuh hati, termasuk juga disekolah kami sangat sesuai dengan isi cerpen ini, menurunnya grafik ibadah siswa. terima kasih semoga bermanfaat aminnnnn….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: