Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Seminggu setelah pertemuan pertama tersebut  aku begitu sibuk, aku berusaha menyelesaikan sebuah proyek yang kubangun bersama Randy, Ahmad dan beberapa teman liqoan lainnya. Kami berusaha membangun sebuah organisasi yang menghimpun anak-anak ikhwah dan yang ingin menjadi ikhwah.

“Apa sih tujuan dari organisasi itu? ” tanya Bu Mita  yang merupakan salah satu pengurus DPD partai yang biasa mengurus anak-anak ikhwah ketika kami mengajukan proposal untuk berdiri di bawah lembaga beliau. “Bukannya udah ada orang-orang dewasa yang menghandel?”

“Begini loh Bu. Seperti yang ibu lihat sendiri, anak-anak ikhwah akan merasa kurang sreg ketika orang dewasa yang mengadakan. Selain itu kebanyakan orang dewasa justru seakan sibuk pada urusannya sendiri. Justru dengan adanya organisasi ini Insya Allah dakwah lebih optimal.”

Begitulah sekilas tentang pengajuan proposal. Kini aku dan teman-teman hanya tinggal menunggu kepastian.

 

“Yan, nanti anggota kita dari mana?” tanya Ahmad

“Yah dari ikhwan dan akhwat di wilayah kita ini lah.”jawabku

“Hah akhwat juga?”tanya Randy

“Iyalah emang kita organisasi untuk ikhwan! Ya semuanya ikutlah biar dakwahnya lebih optimal!”balasku.

“Wah berarti mungkin Shifa bisa ikut ya! Dia kan ketua keakhwatan di MAN 1″ujar Randy frontal

“Bisa-bisa aja! Tapi niatnya dakwah ya!”tegasku.

“Assiiik. Siplah!”sambutnya girang

“Nanti deh gua bilangin dia” sambar Ahmad tiba-tiba.

“Yee… mau curi-curi kesempatan. Gua duluan kok”balas Randy.

“Eh rumah gua lebih deket jadi lebih optimal!”bela Ahmad

“Heh kalo  deket-deketan rumah mah deketan Ryan lah. Cuman beda blok sama dia!”ujar Randy yang tak ikhlas bila Ahmad yang menyampaikan pesan tersebut ke Shifa.

“Hah?! gua?” ujarku kaget.

“Iya, rumahnya Bu Hani!” tanggap Randy lagi

“Eh kasihan si Ryan, dia nggak tahu!”ucap Ahmad lagi

“Dari pada lu yang nyampein nanti niatnya nggak lurus, mending Ryan aja deh!” balas Randy masih tak terima”Lagian lu tahu kan rumahnya Bu Hani yan?

Temen-temen sebenernya aku  juga takut nggak bisa ngelurusin niat. batinku ketika mengingat pertemuan pertamaku dengan perempuan yang bernama Shifa. Yah tapi daripada mereka yang kemungkinan salah niatnya lebih besar mending aku aja deh “Tahu sih. Ya udah nanti gua sampein. Oh iya kalian juga cari temen-temen kalian yang lain ya. Begitu juga gua.” ujarku mengakhiri pembicaraan tersebut

 

Sore keesokan harinya aku berniat untuk melaksanakan amanah dari Randy untuk menyampaikan perihal organisasi kami kepada Shifa. Awalnya aku sempat ragu dan tidak yakin untuk datang ke rumah Shifa.

Bagaimana kalau nanti ketemu Bu Haninya? Mau ngomong apa? Bagaimana kalau nanti ketemu Shifanya? Mau ngomong apa juga?

Akhirnya aku pun memutuskan untuk menulis surat dengan tujuan agar mempermudah menjelaskannya sekaligus menghidari pertemuan terlalu lama. Takut ada fitnah. Aku pun segera menuju rumah Bu Hani yang berada di blog D5

Lima menit kemudian aku telah berdiri di depan pagar rumah yang kuingat sebagai rumah Bu Hani. Rumah yang tak tampak begitu luas namun terlihat elegan.

“Assalamualaikum” ucapku. Akan tetapi tak terdengar jawaban dari dalam rumah. “Assalamualaikum.” ulangku sekali lagi. Akan tetapi semua tetap sunyi. Sekali lagi kalo nggak ada ya pergi batinku. “Assalamualaikum.”

Tetap sepi. Akhirnya aku pun membalikkan badan dan bermaksud tuk beranjak pergi. Akan belum sempat kakiku melangkah. Terdengar langkah kaki tergesa keluar dari rumah.

“Waalaikumsalam. Maaf siapa ya?” jawab sang pemilik rumah.

Entah mengapa batinku terhentak, suara lembut itu bagaikan terbawa angin menelusup ke dalam telingaku. Ketika aku kembali membalikkan tubuhku, aku pun kembali mendapati wajah itu, wajah yang sama seperti seminggu yang lalu, kini berbalut mukenah yang sekali lagi berwarna biru. Biru langit batinku.

“Oh iya. masih inget aku?” tanyaku sembari menundukkan wajahku dan beristighfar guna mengusir memori pertemuan pertamaku dengannya.

“Iya, kamu anaknya Bu Isna ya? Wah kalau mau ketemu ibuku nggak bisa deh. Ibuku lagi pergi.” ucapnya panjang lebar.

“Eh.. enggak kok. Aku mau ketemu sama kamu karena ada keperluan yang mungkin bisa kamu bantu.” jawabku “Tentang sebuah organisasi tepatnya.” tambahku cepat guna menghindari salah paham.

“Oh.. organisasi apa?” tanyanya lagi

“Ini ada surat. Insya Allah di surat ini semua tentang organisasi tersebut dijelasin. Kalau kurang jelas hubungin aja contact person yang ada di sana.” ucapku sembari memberikan surat yang telah kusiapkan. “Ya udah itu aja keperluanku. Aku langsung pamit aja ya”

“Iya iya. Makasih ya. Maaf nih nggak disuruh masuk dulu.” jawabnya sambil memberikan senyum yang tak sengaja tertangkap mataku. Senyum yang manis batinku. Astaghfirullah ucapku sepersekian detik kemuadian diikuti tundukan kepala.

“Sama-sama. Assalamualaikum.” pamitku yang kemudian diikuti langkah kaki menjauhi rumah tersebut

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu.” jawabnya yang kemudian kembali masuk rumah.

Ya Allah, Engkau tunjukkan wanita sepertinya saat ini, sedangkan hati ini masih lemah terhadap cinta semu. Karenanya bantulah diriku menjaga hati. doa batinku beriring istighfar sepanjang perjalan kembali menuju rumah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: