Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Romantis Versiku

Romantis itu…
Makan malam berasama kekaksih di hotel bintang lima sambil denger grup instrument jazz di pinggir sungai nil

Romantis itu…
Menikmati sunset bersama kekaksih di dermaga  pantai yang sepi

Itulah kata mereka tentang romantis. Romantis yang katanya didasari rasa cinta. Tapi anehnya itu sesaat. Keromantisan itu tak bertahan lama. kenapa?

Kalau udah nggak punya uang terus nggak bisa makan malam nggak romantis dong!

Kalau udah nggak di pantai nggak romantis dong!

Nah itu dia yang salah. Banyak orang berasumsi bahwa romantis itu bermodalkan uang dan dilakukan bersama kekasih tak peduli apakah kekasih itu sekedar pacar atau istri.

Karena judulnya romantis versiku, maka akan kujelaskan kriteria romantis yang ada dalam pikiranku. Kuharap pembaca tidak keberatan, karena aku percaya bahwa semua orang punya kriteria masing-masing.

Yang pertama, bagiku romantis itu … dilakukan dengan orang yang telah terikat denganku. Terikat yang dalam arti sesungguhnya adalah terikat pernikahan. Jadi menurutku, romantis itu akan ada ketika aku bersama seorang wanita yang kusebut istri. Mengapa?
Karena aku yakin bahwa ia milikku
dan kami telah terikat
yang kan selalu ku jaga tetap erat
yang hingga akhir hayat
tetap selalu merekat.

Temen : Eh? Yakin lu istri lu bakal setia? Bisa aja kan cerai? Akhirnya nggak romantis deh!

Nah makanya kita beranjak kriteria kedua, menurutku romantis itu… bisa dilakukan dengan orang yang sepaham. Sepaham di sini adalah sama-sama berorientasi pada kehidupan setelah kematian. Dalam bahasa mudahnya, dia wanita yang solehah.
Wanita solehah akan selalu berpikir objektif dengan objeknya adalah keridhoan Allah.
Wanita solehah akan selalu jernih dalam menilai masalah hidupnya.
Wanita solehah akan selalu berusaha setia dan menerima keputusan suaminya selama itu sesuai dengan syariat islam, meski itu butuh pengorbanan.

Ok! Kita sudah berbicara mengenai subjek dari romantis. Sekarang mari kita berbicara keadaanya. Atau bisa dikatakan latar.

Orang bilang… romantis itu lebih nyaman pake` duit. Tapi itu salah. Kenapa? romantis akan jaaauuh lebih indah ketika kita berada dalam keterbatasan.
Banyak orang-orang tidak mampu yang justru menikmati keromantisannya dalam keadaan yang sulit.
Di balik papan yang menutupi rumah-rumah mungil, terdapat banyak cinta yang menghiasai keromantisan dua pasang manusia di dalamnya. Mereka saling mengisi hari dengan apa yang dapat mereka lakukan. Banyak orang-orang kaya yang bisa meluangkan waktu dengan kekasihnya (istri) ketika bekerja, tapi jauh lebih banyak yang lebih sibuk dalam urusan pekerjaannya. Jadi menurutku, kesederhanaan membuat romantis jauh lebih indah

The last, objeknya. Objek merupakan sebuah tujuan akhir. Sebuah pasangan akan sangat mudah merasakan romantisme ketika memiliki satu tujuan yang sama. Sedangkan bagiku, tujuan yang paling indah adalah kehidupan setelah yaumul akhir kelak. Romantisme itu sungguh luar biasa ketika semuanya ditujukan sebagai ibadah dalam kehidupan ini.

Subjeknya dua orang yang sudah terikat, predikatnya kata romantis, keterangan latarnya kesederhanaan, dan objeknya Lillahi Ta`ala.
Itulah romantis versiku!

Aku akan mencritakan sebuah kisah nyata yang mungkin tak seromantis film-film di televisi. Tapi bila menyaksikan anda akan setuju bahwa inilah contoh romantisme nyata bukan fiksi.

Siang itu aku sedang mengikuti aksi solidaritas timur tengah. Cuaca begitu panas ketika akhirnya pawai dimulai. Aku berdiri di bawah bendera Palestina. Tak jauh dariku aku melihat seorang laki laki  yang berjalan sembari menggenggam tangan seorang perempuan yang tak lain adalah istrinya. Mereka berdua mengenakan baju putih. Ketika sang istri mengeluh haus, mereka menyingkir ketepian untuk duduk sebentar lalu sang suami mengeluarkan air putih dari tasnya. Ketika sang istri selesai minum, sang suami pun mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan wajah sang istri. Lalu mereka pun kembali berjalan dan tegar sambil sesekali bersenda gurau. Sungguh membuat siapapun yang melihatnya iri, termasuk diriku 🙂
Ketika acara selesai, azan ashar telah berkumandang. Para peserta pun ramai-ramai menuju masjid. Sekali lagi kutemukan suami istri itu sedang beristirahat dan sekali lagi mereka membuatku iri 🙂 . Mengapa? Karena mereka terlihat begitu romantis ketika sang suami menyuapkan nasi bekal mereka. Aku pun segera berlalu untuk shalat Ashar.
Maka ketika shalat Ashar selesai dan aku telah berkumpul dengan rombongan Pondok Aren. Kami pun beranjak pulang. Ketika bis melalui Bundaran HI sekali lagi kutemui mereka hendak naik Kopaja.
Sungguh romantisme nyata yang Allah perlihatkan kepadaku melalui pasangan suami istri itu. Di balik kesederhanaan mereka, mereka masih bisa menikmati indahnya romantis ala Islam.

Ya Allah semoga mereka kau jadikan pasangan yang abadi. Di dunia maupun dan di akhirat.
Ya Allah semoga romantisme mereka kau nilai sebagai ibadah di mata-Mu.
Ya Allah semoga kelak diriku bisa merasakan indahnya romantis, layaknya pasangan suami istri itu, bersama istriku yang kucintai.

Iklan

Comments on: "Romantis Versiku" (2)

  1. ayniisadzikra said:

    ihh subhanallah bgt ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: