Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Archive for September, 2011

Mendapatkan Pasangan Idaman (Muslim Version)

. Ia curhat kepadaku mengenai masalah yang ia alami. Pada kenyataannya aku sadar bahwa masalah itu dihadapi semua remaja normal. Masalah itu adalah anugrah  yang Allah berikan, yakni rasa tertarik dengan lawan jenis. Aku pun tertarik untuk sedikit mengupas tentang hal tersebut dari sudut pandangku.

Menurutku perasaan seorang remaja kepada lawan jenis dapat dibedakan menjadi tiga jenis :

  1. Kagum
  2. Suka
  3. Cinta

Ketiga perasaan tersebut harus dapat dibedakan. Terutama ketika kita memilih siapa pasangan idaman kita. Memilih pasangan tidak boleh main-main. Apabila mencari pasangan hanya untuk bersenang-senang maka sebaiknya hindari. Mengapa? Karena  senang-senang sesaat hanya berasal dari nafsu, dan nafsu takkan melahirkan cinta.

Kita harus sadar pasangan kita berfungsi untuk menemani kita hingga ke surga nanti. Oleh karena itu kita juga harus memulai dari diri kita. Sudahkah kita sendiri menuju surga. Jika sudah siap anda pasti tahu kapan waktu menjalin hubungan dengan pasangan anda.

Banyak orang yang beralasan pacaran untuk menjaga calon pasangan hidup kita itu agar selalu bersama kita. Maka saya tegaskan bahwa apabila kita telah siap menuju surga, maka kita pasti tahu Allah yang telah memilihkan jodoh kita. Lalu kenapa kita tidak percaya pada Allah.

Nah permasalahannya, bagaimana jika kita mengagumi lawan jenis sedangkan sang lawan jenis belum siap menuju surga, dan di sisi lain ia juga tidak terlalu menaruh respek terhadap kita?

Jawabannya :

Jadilah orang yang dikagumi olehnya. Bukan karena kekayaan kita, bukan karena wajah kita, bukan karena pintarnya kita. Tapi tunjukkanlah ciri khas seorang remaja muslim, yang tahu batasan aurat, yang berbicara lemah lembut, yang giat berusaha, yang suka menolog, yang hobi membaca Al-Qur`an, yang mencintai binatang, yang dewasa menghadapi permasalahan, yang aktif membela kebenaran.

Ketika anda telah dikagumi, jangan justru salah menggunakannya sebagai sarana untuk mendekatinya dengan melupakan aturan agama. Lakukanlah hal-hal seperti sebelumnya. Maka dengan sifat-sifat seorang remaja muslim itu, anda dapat disukai oleh sang lawan jenis. Ketika hal itu terjadi, ajarkanlah ia betapa indahnya Islam.

Ketika sang pasangan tadi telah mengerti Islam, maka ia akan sadar bahwa islam tak membolehkan membina hubungan khusus di luar nikah. Mungkin hal ini akan memberatkan bagi beberapa pasangan yang mengerti itu sehingga terkadang ia ingin mengesampingkan aturan Islam tentang pacaran ini, tapi yakinkanlah ia bahwa hubungan setelah pernikahan jauuh lebih indah dan tentunya diberkahi Allah SWT.

Aku pun teringat film, “Kupinang Engkau dengan Bismillah”. Di sana sang pemeran utama laki-laki berkata

“Allah Maha Adil dan Maha Tahu siapa yang paling pantas buat kita, oleh karenanya tidak salah kita berikhtiar tanpa keluar dari batasan yang ditentukan Islam.”

So Selamat Bahagia di Surga, Bahagia di Dunia ^^

Mudah-mudahan tulisan ini berguna ^^

 

Menulis Lagi

“Setelah lama vakum, akhirnya kini pena tergores”

Alhamdulillah akhirnya aku mampu menulis lagi, entah mengapa selama beberapa bulan ini aku kehilangan selera menulis, banyak tulisan yang sudah ku tulis tetapi tak mampu ku selesaikan. Entah kenapa.

Menulis ternyata tak mudah, membutuhkan niat dan tekad yang kuat. Akan tetapi, ternyata menulis juga merupakan sebuah langkah yang efektif dalam menyampaikan pandangan terhadap suatu masalah.

Dalam Islam, banyak ahli agama dan ilmu pengetahuan pada masa terdahulu yang menuliskan hasil pengetahuannya di dalam sebuah tulisan. Karya dalam bentuk tulisan itulah yang membuat ilmu-ilmu dari generasi terdahulu dapat diwariskan.

Ada sebuah kisah yang luar biasa tentang Syeikh Muhammad Al-Ghazali yang mampu menulisa dengan luar biasa

Satu hal yang membanggakan syeikh Muhammad Al-Ghazali ialah saat menerima surat dari imam Hasan Al-Banna, padahal ia masih muda belia tahun 1945. Surat imam Hasan Al-Banna berbunyi:

“Saudaraku yang mulia, syeikh Muhammad Al-Ghazali…

Assalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sudah membaca makalah Anda yang bertema Al-Ikhwanul Muslimin wal Ahzab di edisi akhir majalah Ikhwanul muslimin. Saya sangat kagum dengan ungkapan makalah tersebut yang ringkas, maknanya yang cermat, dan adabnya yang sopan. Seperti inilah hendaknya kalian menulis, wahai Ikhwan! Menulislah dengan dukungan hati yang tulus. Semoga Allah Ta’ala selalu bersamamu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.