Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Cerbung : Sang Biru Langit – Episode 2

Seminggu setelah pertemuan pertama tersebut  aku begitu sibuk, aku berusaha menyelesaikan sebuah proyek yang kubangun bersama Randy, Ahmad dan beberapa teman liqoan lainnya. Kami berusaha membangun sebuah organisasi yang menghimpun anak-anak ikhwah dan yang ingin menjadi ikhwah.

“Apa sih tujuan dari organisasi itu? ” tanya Bu Mita¬† yang merupakan salah satu pengurus DPD partai yang biasa mengurus anak-anak ikhwah ketika kami mengajukan proposal untuk berdiri di bawah lembaga beliau. “Bukannya udah ada orang-orang dewasa yang menghandel?”

“Begini loh Bu. Seperti yang ibu lihat sendiri, anak-anak ikhwah akan merasa kurang sreg ketika orang dewasa yang mengadakan. Selain itu kebanyakan orang dewasa justru seakan sibuk pada urusannya sendiri. Justru dengan adanya organisasi ini Insya Allah dakwah lebih optimal.”

Begitulah sekilas tentang pengajuan proposal. Kini aku dan teman-teman hanya tinggal menunggu kepastian.

 

(lebih…)

Iklan

Cerpen : Sang Mushalah Kecil

Sore itu, langit begitu terang. Tak tampak awan mendung sedikit pun di pelupuk langit. Padahal menurut para burung yang sempat singgah, saat ini sedang musim penghujan. Apalagi belakangan ini hujan seringkali turun ketika sore hari. Biasanya para siswa yang akan pulang pasti menghampiriku. Akan tetapi bukan untuk shalat atau membaca Al-Qur`an, mereka hanya berteduh menunggu jemputan dan angkutan umum. Parahnya lagi mereka justru seringkali tidak melepaskan sepatu mereka, dan justru mengotori tubuhku dengan sepatu mereka
Lokasiku memang strategis. Aku merupakan, bangunan sekolah yang terdekat dengan jalan raya. Akan tetapi, lokasi yang strategis tak membuat para siswa bahkan guru-guru tertarik mengunjungiku. Ketika waktu Ashar, para siswa lebih suka mengunjungi warung internet yang berada di seberang jalan raya, sedangkan para guru lebih suka menghabiskan waktu di kantor guru. Tinggallah aku sendiri. Sang musholah kecil. (lebih…)

Cerbung : Sang Biru Langit – Episode 1

Malam kini semakin larut. Sang rembulan yang terang benderang pun kini mulai tertutup awan. Angin malam pun perlahan menghilang. Akan tetapi, tubuh ini masih merasa diselimuti dinginnya malam.

“Seandainya ia masih di sini, mungkin malam ini terasa hangat” ucapku lirih. Entah mengapa memori masa lalu yang berusaha kulupakan, kini kembali merasuk ke dalam pikiranku. Mengisi pikiranku dan mengingatkanku pada semua masa kelam berbungkus kenangan indah bersamanya. Kenangan yang terbagi atas pecahan dari sebuah rangkaian indah layaknya rangkaian metamorfosa kupu-kupu

(lebih…)