Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Archive for the ‘My Journal’ Category

"Wah.. Sekolah Bagus" (Episode I)

Setelah menuliskan tentang ‘Pendapat untuk orang “Cerdas” ‘. Aku cukup terkejut melihat respek beberapa pembaca yang cukup membahagiakan. Bukan karena makin eksisnya blog ini, tetapi karena ternyata masih “banyak” yang peduli pada pendidikan di Indonesia.

(lebih…)

Pendapat Bagi Orang "Cerdas"

Perhatian

Bagi orang “pintar” catatan ini dapat membuat anda kesal, benci, dan marah.
Tapi bagi orang yang “cerdas”, maka ia akan tersenyum seraya menganggukkan kepala.
Maka sebelum membaca, harap pertimbangkan kembali.

Sebuah pendapat yang mungkin telah terbukti secara tidak langsung di dunia ini akan saya ungkapkan.
Saya berharap para pelajar, guru, mahasiswa, dosen, depdiknas, dan semua orang yang peduli pendidikan dapat membaca ini! (lebih…)

Langit Itu, Kini Biru

Perubahan iklim memang telah menyebabkan berbagai dampak, diantaranya adalah panjangnya musim hujan, yang berdampak seringnya muncul awan, yang berdampak jarangnya ku jumpai langit biru.

Masih segar di ingatanku ketika hujan selalu terjadi di siang hari. Atau jika tidak hujan maka awan gelap akan menutupi langit biru. Entah mengapa keindahan langit pun seakan sirna.
Namun kemarin ku dapati langit begitu biru, indah merona. Sebuah pemandangan yang membuatku berdeak kagu. Akan tetapi aku yakin tak banyak yang kagum seperti diriku. Mungkin mereka hanya merasa itu hal yang biasa, bahkan jika mereka tahu aku nekad memfoto “langit biru” mungkin mereka akan tertawa. Padahal di saat langit begitu gelap, mereka merindukan sang langit biru.

Aku sendiri memang sangat menyukai langit biru, karena ia telah mencerminkan begitu indhanya sebuah kebebasan. Langit biru tak pernah kutemui berujung.  Hal itu sangat identik dengan keinginanku menemukan arti kebebasan. Hingga kusadari langit biru juga pernah tertutup awan, tetapi di balik awan itu sang langit biru tetap bebas tak terputus.

Filosofi sang langit pun membuatku  menyadari, kebebasan selalu ada, di mana pun, dan kapan pun. Akan tetapi terkadang ia tertutup beberapa peraturan yang sebenarnya takkan memutus arti sebuah kebebasan.

Dunia Itu Sempit #1

Siang itu aku akan berangkat menuju Monumen Nasional untuk mengikuti aksi solidaritas Timur Tengah. Aksi solidaritas ini bertujuan untuk menunjukkan kepedulian PKS terhadap besarnya tekanan terhadap bangsa Timur Tengah terkait dengan banyaknya tuntutan reformasi pada negara-negara Timur Tengah, seperti di Libya, Mesir dan Tunisia

Aku pun berangkat sekitar pukul 1 siang. Sebenarnya aku sadar bahwa kemungkinan aku akan terlambat karena bis dari DPC berangkat pukul 1 tepat. Akan tetapi, tak ada salahnya mencoba. Aku pun mengendarai motor secepat yang ku bisa. Situasi semakin buruk ketika motor yang kukendarai kehabisan bensin. Untunglah di seberangnya terdapat SPBU. Setelah mengisi bensin, aku pun melanjutkan perjalananku menuju DPC yang tak jauh lagi.

Ternyata dugaanku benar, sesampainya aku di sana. DPC telah tutup dan terkunci. Awalnya aku begitu kesal. Akan tetapi, aku pun tak mau kalah dengan keadaan yang ada. Kutelepon ayahku dan minta pendapatnya, mengingat STNKku yang hilang, ayahku pun menyuruhku menitipkan motor di swalayan terdekat lalu menuju Blok M dengan metro mini. Akan tetapi di tengah perjalanan, aku mendapat ide lain. Ide itu adalah menaiki kereta. Selain lebih simpel dan lebih cepat, kereta juga murah.

Akhirnya berbekal semangat dan nekat yang ada, aku pun menuju stasiun. Setelah menitipkan motor, aku pun memesan tiket terjauh, karena memang aku tak tahu jalan dan tak berpengalaman. Akhirnya ku dapati tiket menuju Tanah Abang.

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kereta tiba. Aku pun mencari blok kereta yang nyaman. Ketika akhirnya kumasuki blok yang kurasa paling nyaman, aku pun terperanjat. Ada seseorang yang mengenakan baju DPW Bmanten sama sepertiku. Aku pun berusaha menyapanya.

“Assalamualaikum A`. Mau ke Monas juga?” tanyaku seraya menjulurkan tangan.

“Waalaikumsalam, iya. Antum juga?” balasnya sambil menjabat tanganku

“Iya. Kenalin ane Miqdad. Kakak?”

“Ane Tian. Antum dari Pondok Aren?”

“Iya. Kakak dari mana?”

“Oh ane dari Setu. Di Batan tepatnya.”

“Wah ane sekolah nggak jauh dari Batan tuh. Di SMAN 2”

“Oh iya deket ya”

Begitulah percakapan antara kami, begitu kental meski baru saja mengenal.  Allah seakan mempertemukanku dengannya dengan keterlambatanku tadi. Subhanallah!

Namun hal yang paling mengejutkan dan luar biasa adalah beliau pernah bertemu murabbi/mentorku.

Kenapa?

Karena ternyata ia satu pondok pesantren dengan murabbiku. Padahal murabbiku juga satu pondok pesantrenku. Masya Alllah! Dunia ini begitu sempit!

Satu hal lagi. Ketika turun dari Tanah Abang dan menaiki Kopaja sampai Tamrin. Aku berjumpa dengan ikhwah-ikhwah dari PKS yang kemudian sedangkan mengumpulkan dana. Hebatnya mereka juga alumni pondok pesantrenku. Husnul Khotimah!!

Allahu Akbar! Dunia memang begitu sempit bagi hambanya yang saling menjaga ukhuwah dan membangun silaturahmi!!

Yang Muda, Yang Beda, Yang Berguna

Malam itu seperti biasa aku pergi menuju masjid Biatul Maal di kampus STAN. Hari ini memang agak berbeda karena biasanya aku berangkat jam delapan. Akan tetapi, hari ini aku akan memulai kegiatan mentoring pada jam setengah sembilan. Seperti biasa aku pun berangkat dengan menggunakan motor Supra Fit tercinta.

Sesampainya aku di sana, kudapati banyak orang yang membawa barang bawaan. Selidik demi selidik ternyata baru saja ada acara rihlah ke puncak dan orang-orang tersebut turun dari bis di masjid Baitul Maal tersebut.

Murabbiku pun berhasil ku temui di salah satu sudut masjid tersebut. Beliau bersama dengan salah satu sahabat mentoringnya yang kebetulan ku kenal. Kak Malik. Itulah panggilanku untuknya. Beliau merupakan salah seorang remaja yang memiliki  berbagai pengalaman pada masa SMAnya dulu. Beliau sendiri banyak mengikuti organisasi. Sebut saja KAPMI dan IQRO Club. Beliau juga memiliki mutarabbi atau murid-murid.

Saat itu mutarabbinya yaitu sang Mujahid Biru sedang mengikuti acara Mabit di masjid Bank Indonesia. Acara mabit ini sendiri memang diikuti oleh banyak anak rohis dari Jakarta dan sekitarnya.

“Acara mabit seperti memang penting. Bisa menimbulkan semangat bahwa mereka sebagai para ikhwah muda tidaklah sendiri. Banyak para remaja yang juga tidak merokok, berani mengaku anti pacaran, dan juga berani untuk tetap istiqomah di jalan yang lurus. Insya Allah”

Intinya saat ini begitu banyak remaja yang malu karena nggak berani merokok. Banyak remaja yang malu karena nggak punya pacar. Banyak juga remaja yang malu jika makai baju muslim karena dianggap cupu. Padahal sesungguhnya mereka yang benar. Merekalah yang sesuai dengan kodratnya. Merekalah para remaja yang mampu mengoptimalkan masa-masanya untuk menjadi remaja berguna bagi agama dan bangsa.

Namun, sebenarnya permasalahan utamanya adalah kebiasaan yang menganggap hal-hal tersebut sebagai hal biasa dan kemudaian dianggap sebagai sebuah nilai-nilai masyarakat modern.

Oleh karena itu jadikanlah diri kita sebagai insan beguna karena berani menjadi remaja muda yang beda dari lingkungan buruknya!!

Intinya malam itu pesan yang kudapat adalah :

Yang Muda, Yang Beda, Yang Berguna!!