Prospektif Perjalanan Hidup yang Efektif

Posts tagged ‘Penulis’

Saat ini, kemanakah "jiwa" mereka?

Assalamualaikum wr wb

Sebelum mengisi gelas(diri) anda dengan ilmu, aku mengharapkan pembaca mengosongkan gelas anda, agar tidak ada ilmu yang terbuang keluar karena perasaan sombong, dan tidak lupa memberi saringan di atas gelas anda, agar anda dapat membuang keburukan yang ada di tulisan ini.

Sudah lama rasanya tidak menulis. Kini aku mencoba untuk menulis beberapa pengalaman yang coba kuhayati. Ketika saya begitu resah melihat berbagai keadaan remaja saat ini.

Aku masih ingat ketika seorang ibu menceritakan bagaimana perjuangan ikhwah-ikhwah di Sekolah Tinggi milik negara yang menggunakan uang beasiswa yang dimiliki mereka untuk pergi ke berbagai pelosok hanya untuk mengisi mentoring selama dua pekan. Sekolah Tinggi itu berada di kawasan Jabodetabek dan seluruh lulusan SMA yang bisa masuk ke sekolah tersebut mendapat beasiswa dari negara. Akan tetapi setiap dua minggu mereka rela berpergian dengan uang yang mereka dapat dari beasiswa itu untuk pergi ke berbagai daerah hingga ke daerah Jawa Timur. Sebutlah kota Malang, Surabaya, Mojokerto, Jember dan kota-kota di Jawa Timur sana telah memiliki pengajar yang hadir setiap dua minggunya.

Para pelajar dari Sekolah Tinggi itu memang telah dibekali dengan berbagai pengetahuan agama oleh para ustadz-ustadz yang merupakan para perencana dakwah jangka panjang ini. Para pelajar itu mengunjungi kota-kota di berbagai daerah itu hanya untuk mengajar anak-anak SMA. Dan itu semua tak sia-sia. Meski tak semua anak-anak SMA yang diajar itu bisa konsisten, tapi banyak dihasilkan ikhwah-ikhwah berkualitas dari siswa yang masih konsisten. Ibu yang menceritakan kisahnya ini adalah salah satu target dakwah yang masih istiqomah hingga saat ini.

Tak hanya itu ketika dulu sang ibu pertama kali menggunakan jilbab, ia ingin teman-temannya yang belum mengenakan jilbab bisa ikut mengenakannya juga. Dulu jilbab merupakan hal yang langka. Memang dapat dimaklumi bahwa saat itu pemahaman Islam belum sepenuhnya merata. Namun ternyata setelah sang ibu menanyakan teman-teman sekolahnya tentang jilbab, ia pun mendapat respon positif dari mereka. Maka ia dan teman-temannya yang sudah berjilbab pun meminta bantuan dari mentor yang berasal dari Sekolah Tinggi itu. Sang mentor pun merespon positif permintaan itu. Ia pun mengumpulkan uang dari para mentor lain.  Alhasil terkumpulah  sejumlah uang. Uang itu memang tak terlalu banyak, akan tetapi ternyata sang ibu dan teman-temannya punya inisiatif untuk membuat jilbab sendiri agar hasilnya lebih banyak. Mereka membeli kain dalam jumlah banyak, lalu menjahit sendiri kain-kain itu dan memberikannya secara gratis kepada teman-temannya di SMA.

Belum selesai aku mengagumi kisah para pelajar SMA itu dalam menerima hal baru tentang kebaikan. Aku pun diceritakan mengenai perjuangan para siswa-siswi SMA  oleh salah seorang senior di IQRO Club.

Kisah ini terjadi pada kisaran tahun 2000-an. Masih mengenai jilbab, karena ternyata di kawasan Jakarta dulu banyak SMA yang tak memperbolehkan para siswinya untuk mengenakan jilbab. Tentu para siswi yang ingin konsisten dengan jilbabnya menemui tantangan yang berat. Sering kali para siswi tersebut harus bersitegang dengan pihak sekolah karena masalah tersebut. Maka salah satu organisasi, yang saat itu begitu aktif dalam menjadi wadah organisasi bagi para pelajar Islam, mencoba untuk mempresure seluruh sekolah untuk memperbolehkan para siswinya mengenakan jilbab. Hebatnya para pengurus di organisasi itu adalah para pelajar SMA itu sendiri yang berasal dari ROHIS.

Mereka pun sempat berdemonstrasi untuk meminta SMA memperbolehkan jilbab digunakan, tak hanya itu mereka telah berdiskusi dengan para guru demi jilbab itu. Ternyata semua itu tak sia-sia, akhirnya jilbab dapat diterima di sekolah-sekolah.

Selain itu organisasi itu juga sering mengadakan demonstrasi untuk menyuarakan kebaikan, seperti ketika mereka menentang aksi para zionis di negara Palestina dan penyerbuan Amerika Serikat ke Irak. Mereka pun sering mengumpulkan dana untuk disalurkan ke negara-negara tersebut.

Sungguh mengagumkan mengingat mereka yang masih merupakan pelajar SMA. Hebatnya banyak dari mereka yang selalu menjadi ranking teratas di kelasnya. Sehingga tak jarang teman-teman mereka tertarik untuk mengetahui Islam lebih banyak karena melihat kesuksesan mereka.

Dua kisah itu merupakan salah satu pesona luar biasa dari jiwa muda remaja Islam. Jiwa yang selalu memperjuangkan kebenaran. Jiwa yang selalu siap mengorbankan apapun demi terpenuhinya kebaikan.

10 tahun telah berlalu, kini “jiwa-jiwa” itu pergi entah kemana. Para pengisi barisan dakwah dari remaja kini tak terlihat.

Afwan ane mau belajar kelompok jadi nggak bisa ikut dauroh, setengah jam kemudian ia memang telah memegang buku di salah satu rumah temannya. Ironisnya temannya itu perempuan yang tak lain adalah TTMnya atau mungkin pacarnya. Entahlah. Ironisnya lagi belajar kelompok hanya bertahan setengah jam karena kemudian mereka telah berlabuh di Mall. Padahal dauroh berlangsung hingga dua jam dan membahas adab pergaulan dengan lawan jenis. Astaghfirullah

Afwan ane mau belajar karena besok ulangan jadi nggak bisa ikut liqo, maka ia pun dijumpai tengah belajar di rumahnya. Buku pelajaran telah berada di tangan. Sayangnya ia pun berada di depan TV yang sedang menyiarkan liga eropa, maka nyaris tak ada pelajarn yang ia hapal. Hanya jalannya pertandingan yang menempel di otaknya.

Padahal nyatanya ketika seorang remaja mampu mengatur dirinya untuk meninggalkan hal-hal yang melenakan dan bahkan dilarang dalam Islam – seperti pacaran, bermain game berlebihan dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya boleh namun telah dilakukan berlebihan -, maka seorang remaja PASTI bisa membagi waktunya untuk berdakwah dan belajar.

Kita masih pelajar belum waktunya berdakwah?
Salah besar karena dakwah dan menimba ilmu itu satu kesatuan. Dalam riyadhus solihin telah dijelaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar, mengamalkan dan mengajarkan!

Kita masih belum waktunya untuk berdakwah?
Waktu itu datang bersama kesadaran, ketika kita sadar maka itulah waktunya. Sadar juga merupakan salah satu bentuk hidayah. Dan ingat hidayah itu hanya untuk orang-orang yang Allah kehendaki. Maka jika anda saat ini tak menghendaki hidayah dengan berkata “Belum waktunya dapat hidayah” Maka anda tak akan pernah mendapat hidayah karena prinsip anda tidak berubah.

 

So saat ini, kemanakah “jiwa” mereka?

Cinta, Cinta, Cinta

Remaja saat ini begitu rentan dengan yang namanya cinta.

Maka awalnya saya ingin menulis tentang cinta, maka sebagai rutinitas saya mencoba mencari sumber di beberapa site lain tentang cinta. Ironisnya tak ada tulisan yang memuaskan saya. Akan tetapi ketika saya teringat tentang salah seorang tokoh yang saya kagumi pernah menulis tentang cinta, maka saya pun mencari hasil tulisannya tersebut.

Ketika menemukan tulisannya, saya merasa cukup.
Cukup untuk menemukan segala hal tentang cinta di dalam tulisan beliau.
Cukup
Cukup sudah tulisan beliau menjadi inspirasi cinta saya. Mungkin ini kurang baik, tapi saya akan berbagi tiga bagian tulisan beliau yang mungkin sudah diketahui oleh beberapa teman-teman. Tapi saya berharap ini membantu teman-teman yang lainnya dalam menemukan makna cinta. (lebih…)

"Wah.. Sekolah Bagus" (Episode I)

Setelah menuliskan tentang ‘Pendapat untuk orang “Cerdas” ‘. Aku cukup terkejut melihat respek beberapa pembaca yang cukup membahagiakan. Bukan karena makin eksisnya blog ini, tetapi karena ternyata masih “banyak” yang peduli pada pendidikan di Indonesia.

(lebih…)

Pendapat Bagi Orang "Cerdas"

Perhatian

Bagi orang “pintar” catatan ini dapat membuat anda kesal, benci, dan marah.
Tapi bagi orang yang “cerdas”, maka ia akan tersenyum seraya menganggukkan kepala.
Maka sebelum membaca, harap pertimbangkan kembali.

Sebuah pendapat yang mungkin telah terbukti secara tidak langsung di dunia ini akan saya ungkapkan.
Saya berharap para pelajar, guru, mahasiswa, dosen, depdiknas, dan semua orang yang peduli pendidikan dapat membaca ini! (lebih…)

Bu Yoyoh Yusroh, Sang Wanita Teladan

Saya foward sebuah tulisan tentang Bu Yoyoh Yusroh, dari blog Mbak Pipiet Senja.

Perempuan Pilihan Itu Telah Pergi: Selamat Jalan, Saudariku Yoyoh Yusroh

Obituari

Tokoh nasional yang memiliki buah hati 13 orang ini sungguh figur yang patut diteladani oleh kita. Meskipun supersibuk sebagai anggota legislatif, ia tetap dapat merancang kebersamaan bersama suami dan semua anak demi memelihara cinta kasih, dan keharmonisan keluarga besarnya.
Kemarin, 21 Mei 2011, kita tersentak mendengar kabar dukacita, beliau pergi mendahului kita. Yoyoh Yusroh meninggal dalam kecelakaan mobil bersama dengan suami dan anak-anaknya yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta setelah menghadiri acara wisuda anaknya di UGM. Mobil Inova hitam yang ditumpanginya terguling saat melaju dengan kecepatan tinggi. Diduga karena sopir yang mengendarainya mengantuk dan slip hingga mobil hilang kendali saat melintas di tikungan jalan tol Tegal Karang, Cirebon.  Yoyoh Yusroh yang juga ibu dari 13 anak tersebut sudah tidak tertolong lagi, Yoyoh Yusroh tewas dalam kecelakaan tersebut, sedangkan suami dan anak-anaknya saat ini masih sedang dalam perawatan.
Jenazah Yoyoh Yusroh tiba dari rumah duka di Kompleks perumahan DPR di Kalibata, Jakarta Selatan, sekitar pukul 14.30 WIB. Jenazah tiba di RT 1/RW 1 No 54, Kelurahan Belendung, Kecamatan Benda, Kota Tangerang. (lebih…)

Latansa, Sang Penulis Kreatif

Yang Muda, Yang Kreatif

Itulah tagline blog seorang Latansa, Latansa Izzah tepatnya. Seorang penulis berbakat yang mulai menulis di blog Multiply. Multiply merupakan penyedia jasa blog gratisan. Akan tetapi ketika anda masuk ke akun Latansa IDE, tak tersirat sedikit pun bahwa alamat tersebut hanya blog gratisan. Karya-karya Latansalah yang telah berhasil memberikan nuansa berbeda.

Blog dengan judul IDE-IDE Latansa berisi berbagai artikel yang diantaranya merupakan buah pemikiran kritis dari seorang Latansa. Selain itu terdapat pula beberapa kisah aktifitasnya yang berhasil disulap menjadi kisah menarik dan selalu membuat para pembacanya kagum.

Ia bersekolah di SMAN 78 Jakarta. Mungkin perempuan yang lahir pada tanggal 6 Agustus 1995 ini kini telah bersiap untuk meng

hadapi Ujian Nasional yang sementar lagi kan tiba.

Kok bisa kelahiran “1995” udah mau UN?

Itulah hebatnya ia, ia telah mengikuti program SCI yang merupakan kelas Akselerasi di SMAN 78. Selain itu ia masuk SD lebih dahulu jika melirik dari umurnya. Meskipun begitu, ia masih menyempatkan diri untuk menulis dan berkarya di Multiplynya

 

 

Inilah salah satu kutipan tulisan kreatifnya.

Entah dari mana datangnya, saya menemukan segitiga risiko (lihat di lampiran). Segitiga ini adalah segitiga sama sisi yang masing-masing sisinya mewakili sesuatu, yaitu kamu benar, kamu salah, dan bukan keduanya. Mungkin ini terinspirasi dari trigonometri, yang sampai sekarang saya belum juga mempelajarinya dengan baik.

Memang, setiap pilihan yang diambil itu mempunyai risiko, dan itu sudah lumrah. Maka kali ini saya akan menceritak

an sesuatu yang sebenarnya tak jauh beda. Namanya dilema.

 

Telah beberapa kali saya menuliskan masalah yang sedang dihadapi di atas lembar putih. Kemudian lembar putih itu diserahkan kepada Guru-Guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang berbeda. Semua masalahnya sama: saya tidak tahu harus melanjutkan ke jurusan apa setelah lulus. Tapi saya yakin kalau tulisan-tulisan tersebut belum dibaca.

Ketika berangkat sekolah, penyiar radio berkata, “Selamat pagi semua, Selamat Hari Kartini buat kita. Buat kamu yang sedang berangkat kuliah…” Setelah itu bapak saya bertanya, “Nanti kamu mau kuliah di mana?” “Yang jauh dari sini,” jawab saya sekenanya. “Di Jawa Timur sana? Dekat rumah nenekmu?

” “Iya,” saya hanya asal mengiyakan. “Mau belajar apa kamu di sana? Mendingan di STAN.” Tak lama kemudian sampai sekolah, untunglah…. Baca Selengkapnya

Blog Multiply IDE-IDE Latansa sendiri telah berumur kurang lebih dua tahun dan mungkin tahun ini akan menginjak 3 tahun. Saya sendiri mengenalnya sejak tahun pertama, akan tetapi kesibukan membuat saya lupa tentang Multiply, apalagi saat itu saya masih mondok.

Namun berbeda dengan Latansa, ia telah membuat saya salut dengan konsistensinya yang kini membuahkan hasil!!

Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)